Kurikulum di Masa Pandemi

 

Syamsir Alam

Devisi Kurikulum dan Penilaian Yayasan Sukma

    Pandemi Covid-19 membuat hampir semua sektor kehidupan terpengaruh, tidak terkecuali pada sektor pendidikan. Pengaruh pada sektor pendidikan terutama pada kelompok anak (yang sangat membutuhkan) bahkan akan semakin buruk karena dipicu dengan berbagai persoalan ekonomi dan akses (terhadap lingkungan belajar yang baik) yang memang sudah hadir sebelumnya. Sementara dukungan masyarakat dan pemerintah terhadap kelompok anak ini masih dirasakan sangat kurang. Sayangnya, diskusi yang mengemuka pada sejumlah forum webinar hari-hari ini masih belum menyentuh persoalan mendasar anak, khususnya kelompok anak (yang sangat membutuhkan), yaitu bagaimana cara untuk memperbaiki learning losses (kehilangan pembelajaran) yang mereka sudah alami dan rasakan selama beberapa bulan ini, sejak virus berjangkit. Sedangkan diskusi tentang rencana belajar kembali di sekolah yang marak sekarang ini, isunya juga masih berkisar pada persoalan logistik, tentang bagaimana kami (pengelola sekolah) memastikan jarak sosial yang sesuai di sekolah, mengatur jadwal pembelajaran yang sebagian akan berbasis internet dan tatap muka (in- person), dengan mempertimbangkan segala keterbatasan dan perbedaan ketersediaan perangkat. Mereka (pengelolah sekolah) lebih fokus pada masalah permukaan, dan kurang memperlakukan masalah mendasar dalam memberikan pendidikan berkualitas untuk kelmpok siswa (yang sangat membutuhkan)” (Hanushek E., 2020). Menurut Hanushek (20202), mempersiapkan semua siswa agar dapat berhasil dalam pembelajaran, sekolah harus fokus pada the lost of learning dan kesenjangan prestasi yang diakibatkan oleh terganggunya proses pembelajaran siswa selama beberapa bulan terakhir. Kesenjangan digital juga telah memperparah perbedaan (quality discrepancy), yang disebabkan keterbatasan kemampuan ekonomi (sebagian kelompok) keluarga untuk mendukung dan membimbing anak-anak mereka dalam belajar di rumah.

    Namun perlu menjadi perhatian bahwa the lost of learning dan kesenjangan prestasi bukanlah persoalan yang dapat diperbaiki teknologi sendiri; karena kesenjangan prestasi ini menyangkut bagaimana pimpinan sekolah dan guru dalam mengelola pembelajaran dan kurikulum, termasuk penilaian secara adil dan rigor (berkualitas, menyeluruh dan akurat), khususnya pembelajaran yangdilakukan secara luring dan daring.

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)

    Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) telah menyebabkan ketergaketan dan kegamangan pada sebagian pimpinan sekolah dan guru. Mereka terkaget dengan perubahan situasi begitu cepat yang tidak diantisipasi sebelumnya. Ketidaksiapan pimpinan sekolah dan guru untuk beradaptasi dengansituasi baru secara cepat telah menyebabkan ketegangan dalam relasi pembelajaran guru, siswa, dan orang tua. Guru berpikir dan bertindak sepertinya kita masih hidup dalam situasi normal; sehingga PJJ yang diselenggarakan baru sebatas memindahkan tempat belajar, dari ruang kelas (di sekolah) ke kamar (di rumah), sementara substansi pembelajaran, kurikulum, dan penilaian belum berubah dan disesuaikan sehingga lebih relevan dengan kebutuhan hidup kekinian dan karir pendidikan siswa ke depan. Pimpinan Sekolah dan guru bekerja dengan penuh kegamangan dalam melayani kebutuhan pembelajaran siswa, apalagi kementerian pendidikan juga belum mendiskusikan secara mendalam persoalan pokok pendidikan ini, sehingga dapat memberikan acuan yang jelas dan terukur tentang bagaimana mengelola kurikulum dan pembelajaran (termasuk penilaian) selama masa darurat ini. Sekolah-sekolah yang memiliki sumberdaya yang cukup seharusnya dapat cepat melakukan penyesuaian karena Kementerian Pendidikan sudah memberikan ruang untuk menyesuaikan kurikum sesuai dengan kondisi satuan pendidikan. Sekolah dapat membedah ulang kurikulum dan mengubah strategi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan saat ini sehingga hak setiap individu siswa untuk , dipenuhi meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan keterbatasan (waktu belajar dipersingkat, ruang gerak, dan fasilitas pembelajaran).

Memahami atau Mencapai Target Kurikulum

    Mindset guru dalam proses pembelajaran di masa pandemi masih belum banyak berubah maju. Kecemasan akan ketidaktercapaian kurikulum (curriculum coverage) masih menghantui mereka. Guru masih terlalu banyak berfokus pada kegiatan pembelajaran yang terfragmentasi pada topik bahasan yang diskrit, bukan menyusun rencana pembelajaran yang koheren untuk sebuah kinerja berjangka panjang. Karena hanya fokus pada ketuntasan kurikulum, banyak rencana terlalu fokus pada apa yang akan dilakukan guru dan siswa daripada memetakan rencana untuk menyebabkan hasil spesifik dan perubahan dalam kemampuan, sikap, dan perilaku (Wiggins G., 2013). Yang lebih mengejutkan, menurut Wiggins (2013), sejumlah rencana pembelajaran disusun tidak menjadikan keterlibatan siswa (student engagement) sebagai pertimbangan utama.

    Wiggins (2013) memberikan berbagai resep buat guru dalam mendesain pembelajaran bermakna (meaningful), yang menurut hemat penulis sangat relevan bila digunakan pada situasi pembelajaran di masa pandemi sekarang ini. Wiggins (2013) menyarankan agar guru selalu mengajukan sejumlah pertanyaan untuk diri sendiri pada saat membuat desain pembelajaran, antara lain: guru perlu bertanya, apakah yang harus dilakukan siswa dengan konten yang akan diajarkan? Standar konten dan tujuan apa yang terkait dengan program yang menjadi target dari unit ini? Apa pertanyaan yang mampu merangsang pemikiran sehingga dapat mendorong siswa bertanya lebih mendalam, bermakna, dan mengubah? Apa yang guru ingin siswa pahami secara spesifik? Kesimpulan apa yang harus mereka buat? Kesalahpahaman apa yang dapat diprediksi dan perlu di atasi? Fakta dan konsep dasar apa yang harus diketahui siswa sehingga mereka dapat mengingat dan menggunakannya dalam jangka panjang? Kriteria apa yang akan digunakan dalam setiap penilaian untuk mengevaluasi pencapaian hasil yang diinginkan? Penilaian apa yang akan memberikan bukti yang valid tentang sasaran? Bukti apa lagi yang akan guru kumpulkan untuk menentukan apakah tujuan telah tercapai? Bagaimana guru melakukan penilaian pendahuluan (pre-assess) dan penilaian formatif? Bagaimana guru melakukan penyesuaian, jika diperlukan (seperti yang disarankan oleh feedbacks (umpan balik) hasil penilaan formatif? Apakah rencana pembelajaran mencerminkan prinsip-prinsip pembelajaran dan praktik terbaik? Bagaimana guru akan dapat sepenuhnya melibatkan seluruh siswa dan mempertahankan minat mereka di seluruh unit yang akan diajarkan? Bagaimana rencana itu harus diubah, mengingat hasil temuan terbaru (dan berdasarkan kebutuhan dan minat siswa)? Apakah ada keselarasan yang erat antar tujuan pembelajaran, pembelajaran, dan penilaian?

Penilaian Formatif

    Grand Wiggins menekankan pentingnya penggunaan penilaian formatif dalam pembelajaranbermakna. Penilaian formatif merupakan penilaian yang terintegrasi dengan pembelajaran.Informasi hasil dari penilaian formatif digunakan sebagai dasar pemberian feedbacks (umpan balik) bagi kemajuan belajar siswa. Feed-back (umpan balik), ketika digunakan sebagai bagian dari sistem penilaian formatif, efeknya akan sangat efektif untuk meningkatkan prestasi siswa. Sebaliknya, Umpan Balik jika hanya digunakan sebatas formalitas, akan menjadi kurang berguna. Seperti dikemukakan oleh John Hattie dan Helen Timperley (2007), “Umpan Balik tidak memiliki pengaruh dalam RUANG HAMPA; untuk menjadi kuat dalam pengaruhnya, harus ada konteks pembelajaran umpan balik itu ditujukan.” Hattie dan Timperley (2007) lebih lanjut mengatakan sistem penilaian formatif memiliki tiga komponen: umpan (feed-up), umpan balik (feed-back), dan umpan maju (feed-forward). Feed-up memastikan bahwa siswa memahami tujuan penugasan, tugas, atau pelajaran, termasuk bagaimana mereka akan dinilai. Feedback (umpan balik) memberi siswa informasi tentang kesuksesan dan kebutuhan mereka. Feed Forward (umpan maju) memandu pembelajaran siswa berdasarkan data kinerja. Ketiganya diperlukan jika siswa ingin belajar di level tinggi. Masing-masing dari ketiga komponen ini memiliki pertanyaan panduan untuk guru dan siswa, yaitu: Where am I going (saya mau kemana dengan pembelajaran ini)? (feed-up); How am I doing (bagaimana saya melakukan)? (feed-backs). Where am I going next (ke mana saya akan pergi selanjutnya? (feed-forward). Wallahu a’lam bishawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Instrumen Penilaian Formatif Sumber

METIGASI ‘LEARNING LOSS’

Diversifikasi Kurikulum dan Keadilan Pendidikan