METIGASI ‘LEARNING LOSS’
Syamsir Alam
Divisi Kurikulum dan Penilaian Yayasan Sukma
Keputusan pemerintah untuk melonggarkan ketentuan yang memungkinkan sekolah dapat dibuka kembali setelah sudah lebih dari enam bulan ditutup karena pandemi Covid 19, disambut masyarakat dengan beragam, banyak yang merasa senang, namun juga terdapat porsi masyarakat yang belum berkenan sekolah dibuka mengingat kurva Covid 19 belum menunjukkan kecenderung melandai. Apabila sebelumnya pemerintah hanya akan memberikan ijin pada sekolah yang berada di daerah zona hijau yang dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka (in-person); dengan ketentuan baru, sekolah yang berlokasi pada zona kuning pun diperbolehkan, tentunya dengan kewajiban bagi sekolah untuk mematuhi (comply) dengan protokol kesehatan, seperti:seluruh warga sekolah harus mengenakan masker, menjaga jarak, dan menyediakan sarana untuk mencuci tangan dan pengukur suhu badan.
Antusiasme masyarakat dibukanya kembali sekolah bukan hanya karena mereka akan terbebaskan dari beban karena harus membantu anak-anak belajar di rumah; lebih dari itu, masyarakat diduga juga sudah mulai mengkhawatirkan akan menurunnya kualitas pengetahuan kognisi, keterampilan vokasi, dan keterampilam sosial yang dimiliki siswa sebagai akibat dari hilangnya kesempatan pembelajaran di sekolah, sementara proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang diselenggarakan sekolah/guru, baik dalam bentuk daring maupun luring belum menemukan format yang tepat pada sebagian sekolah, sehingga efektivitasnya masih dipertanyaakan. Hilangnya kesempatan belajar (learning loss) ini, bagi sebagian siswa
yang secara ekonomi lebih beruntung akan lebih untuk dikompensasi dengan pembelajaran ‘private’; namun, bagi kelompok siswa yang tergolong kurang beruntung secara ekonomi dan mereka yang bermukim di daerah pedesan dan terpencil keadaannya menjadi lebih akut karena keterbatasan sumber daya kependidikan berkualitas dan daya dukung teknologi pembelajaran, khususnya pada pembelajaran model daring. Andreas Schleicher (2020), mengatakan aspek yang paling mengganggu adalah bahwa pandemi telah memperbesar banyak ketidakadilan dalam sistem pendidikan kita — termasuk akses yang tidak setara ke komputer dan internet broadband yang diperlukan untuk pendidikan daring, kurangnya lingkungan rumah yang mendukung untuk belajar, dan kegagalan sekolah untuk menarik guru berbakat ke ruang kelas yang paling menantang. Selanjutnya dikatakan ‘bagi anak-anak yang berasal dari keluarga yang memiliki keistimewaan sedikit diuntungkan. Mereka bukan hanya mendapat dukungan kuat dari orang tua mereka untuk dapat fokus pada pembelajaran, tetapi mereka juga menemukan jalan keluar dari ditutupnya sekolah dengan membukakan kesempatan pembelajaran alternatif melalui tutor pribadi dan ruang belajar lainnya. Sebaliknya, anak-anak yang berasal dari latar belakang yang kurang beruntung tetap menutup sekolah ketika sekolah mereka ditutup dan kemungkinan besar mereka juga akan tidak sanggup menutup kesenjangan yang semakin lebar.’
‘Learning Loss’
Apa yang dimaksud dengan ‘learning loss?’ Menurut Christodoulou. D, (2020), terdapat sejumlah skenario untuk menjelaskan frasa ini, antara lain: Misalkan seorang guru SD menyelenggarakan tes membaca untuk sekelompok besar kelas 6 sesaat sebelum sekolah ditutup di bulan Maret 2020, dan pada September 2020 (sebagaimana diperkirakan sebelumnya) siswa yang bersangkutan akan kembali belajar di sekolah. Pada waktu tes diselenggarakan di Maret 2020, hasilnya menunjukkan kemampuan membaca sebagian besar siswa kelas 6 setara dengan usia membaca anak-anak 11 tahun (catatan: tes membaca yang digunakan adalah bateri tes untuk mengukur reading age siswa). Selanjutnya pada September 2020,
siswa yang bersangkutan diberi tes ulang dalam membaca, dan hasilnya ternyata belum berubah, sama dengan hasil tes 6 bulan lalu, usia membaca anak-anak berada pada 11 tahun. Hasil ini menjelaskan bahwa kelompok siswa ini sudah kehilangan 6 bulan pembelajaran, karena harapannya siswa akan memperoleh skor rata-rata 11 tahun ditambah 6 bulan pada September 2020, karena mereka selama enam bulan belajar dari rumah (BDR) diasumsikan akan tetap menunjukkan kemajuan dalam pembelajaran membaca. Pada puncak pandemi, secara global diperkirakan akan ada 1,5 miliar siswa tidak dapat bersekolah. Terlepas dari upaya pengajaran jarak jauh, para siswa ini mengalami kerugian belajar yang cukup signifikan Andreas Schleicher (2020). Simulasi potensi dampak penutupan sekolah akibat COVID-19, yang dilakukan Bank Dunia pada perolehan rata-rata skor pada survei PISA meneguhkan potensi terjadinya ‘learning loss’ ini. Studi simulasi data yang dikakukan Bank Dunia-Praktik Pendidikan Global terhadap 157 negara, yang dikerjakan pada bulan Juni 2020 menggunakan pencapaian pembelajaran kelas 9 dan 10 dalam kumpulan data PISA pada ‘Reading Test.’ Studi yang diberi judul ‘Simulating the Potential Impacts of COVID-19 School Closures on Schooling and Learning Outcomes: A Set of Global Estimates’ mengestimasikan efek tingkat pembelajaran rata-rata. Dalam skenario menengah, rata-rata siswa akan kehilangan 16 poin PISA sebagai akibat dari penutupan sekolah, atau setara dengan kurang dari setengah tahun pembelajaran di negara tertentu. Dalam skenario optimis, siswa akan kehilangan 7 poin PISA, dan dalam skenario pesimis, kehilangan 27 poin PISA. Efek simulasi serupa untuk Asia Timur dan Pasifik (EAP), Eropa dan Asia Tengah (ECA), Amerika Latin dan Karibia (LAC), serta Timur Tengah dan Afrika Utara (MNA). Di Amerika Utara dan Kanada (NAC) siswa akan kehilangan 6 poin dalam skenario optimistetapi 30 poin dalam skenario pesimis.
Metigasi Potensi ‘Learning Loss’
Meskipun studi yang terkait dengan potensi ‘learning loss’ bagi anak-anak dengan rentang usia 4-17 tahun belum pernah dilakukan, dan kondisi siswa belum terpetakan secara cermat secara nasional, bukan berarti sekolah akan terbebaskan dari tanggungjawab untuk menjaga kualitas pembelajaran siswa. Sekolah mungkin tidak harus mengadalkan pada penilaian standar untuk mengetahui kedudukan siswa, tapi cukup dengan penilaian diagnostik yang dirancang sendiri oleh guru atau kelompok guru serumpun. Sekolah memang menghadapi banyak kendala saat Covid 19 ini, tapi sekolah juga berpeluang untuk berinovasi mengurangi potensi ‘learning loss’ yang dialami siswa. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama pandemi yang menempatkan tuntutan lebih besar pada otonomi, kapasitas untuk belajar mandiri, pemantauan diri, dan kapasitas untuk belajar secara daring terus diperkuat, dan kapasitas ini dapat diakselerasi jika sekolah kelak sudah bisa dibuka kembali. Oleh karena itu, rencana kembali ke sekolah nantinya harus difokuskan pada upaya yang lebih disengaja untuk menumbuhkan keterampilan penting tersebut pada semua siswa. Selain itu, penting untuk mengembangkan upaya yang sudah berlangsung dalam membangun infrastruktur pembelajaran daring dan luring. Sekolah harus terus mengembangkan kapasitas siswa dan guru sehingga mampu mengoptimalkan pembelajaran melalui daring dan luring (berupa modul pembelajaran). Perlu disadari akan banyak pengalaman baik yang dipelajari selama pandemi yang tidak akan hilang ketika keadaan kembali ‘normal.’ Pengalaman itu akan memberikan inspirasi untuk pengembangan pendidikan lebih lanjut (Schleicher A., 2020).
Kurikulum dan Pembelajaran
Pembelajaran selama pandemi difokuskan pada topik/tema dan keterampilan (skills) yang esensial dan berguna bagi siswa untuk menempuh karir pendidikan dan dunia kerja ke depan. Muatan kurikulum dikaji ulang untuk disesuaikan dengan kebutuhan masa depan. Untuk mewujudkan pembelajaran yang berguna membutuhkan bukan hanya pada pemahaman konten; sebaliknya, penekanan lebih pada makna atau ‘deeper learning.’ Pembelajaran yang lebih mendalam (deeper learning) dapat dipahami sebagai proses di mana seseorang menjadi mampu mengambil manfaat dari apa yang telah dipelajari dalam satu situasi, dan ia mampu menerapkannya pada situasi baru — dengan kata lain, pembelajaran untuk transformasi (transformational learning). Melalui pembelajaran yang lebih dalam (deeper learning), siswa memperoleh keahlian dalam bidang disiplin atau subjek yang melampaui dari hanya sekedar hafal tentang fakta atau prosedur; mereka memahami kapan, bagaimana, dan mengapa menerapkan pengetahuan
yang telah mereka pelajari. Mereka mengenali ketika masalah atau situasi baru terkait dengan apa yang telah mereka pelajari sebelumnya, dan mereka dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan untuk menyelesaikannya. Keterampilan abad ke-21 seperti inovasi, kreativitas, dan pemecahan masalah secara kreatif dapat dilihat sebagai pembelajaran yang lebih dalam (deeper learning)— membantu siswa mengembangkan pengetahuan yang dapat ditransfer dan digunakan untuk memecahkan masalah baru atau merespons situasi baru secara efektif (Pellegrino & Hilton, 2012).
Metigasi potensi ‘learning loss,’ bukan hanya memperhatikan masuknya unsur teknologi informasi, tapi juga menghendaki penataan ulang kurikulum yang lebih selaras dengan keterampilan abad ke-21 (termasuk perubahan mindset guru, siswa, dan seluruh pengampu pendidikan). Penekanan pada kompetensi abad ke-21, bukan berarti mengabaikan pentingnya muatan konten kurikulum dalam proses pembelajaran. Karena keterampilan abad ke-21 bukan dimaknai sebagai kompetensi bersifat generik, melainkan spesifik sesuai dengan subjek/mata pelajaran yang sedang diajarkan. Keterampilan memecahkan masalah baru, misalnya, akan lebih memberikan makna apabila dikaitkan dengan mata pelajaran Kimia, Biologi atau Ekonomi. Wallahu a’lam.
Komentar
Posting Komentar