Sekolah Alam dan Pendidikan Lingkungan
IBU Jenni, guru di sekolah alam yang terletak
di pinggir Kota Tampere, Finlandia, memberi pengarahan singkat kepada siswa
kelas 7 SMP yang berkunjung untuk belajar tentang lingkungan dan pelestarian
alam. Kepada siswa dijelaskan tentang kegiatan pembelajaran yang mereka akan
peroleh pada hari itu. Semua siswa kelas 7 termasuk guru yang mendampangi
dibekali berbagai informasi terkait pembelajaran dan medan lingkungan yang
mereka akan jelajahi selama beberapa jam ke depan.
Selain itu, Ibu Jenni juga memeriksa kesiapan
siswa sebelum berangkat memasuki hutan produktif yang terletak tepat di samping
kompleks bangunan sekolah alam. Sebelum bergerak memasuki wilayah perhutanan,
siswa diberi tugas awal untuk mengidentifikasi, memilih, dan memetik beberapa
dedaunan yang layak dan aman untuk dikonsumsi (diminum) sebagai pengganti daun
teh. Dedaunan itu kelak (di akhir kegiatan pembelajaran) akan dinikmati seluruh
rombongan yang berpartisipasi dalam pembelajaran melalui penjelajahan hutan
(produktif) pada hari itu.
Dalam proses identifikasi tanaman dedaunan itu
sudah terjadi diskusi dan perdebatan di kalangan siswa dan juga dengan guru
pembimbing tentang dedaunan yang dipilih/dipetik. Apakah memang benar layak dan
aman untuk dikonsumsi sesuai konsep ilmu pengetahuan yang mereka sudah
miliki/pelajari sebelumnya. Metode yang digunakan ibu Jenni dalam membangun
diskusi dan perdebatan itu sangat baik dan inspiratif.
Belajar dari Finlandia
Sekolah alam di Finlandia menawarkan layanan
pendidikan lingkungan dan perubahan iklim secara eksklusif diperuntukkan bagi
anak-anak dan remaja. Pengunjung yang belajar ke sekolah alam umumnya adalah
siswa SD dan SMP. Metode pendidikan yang paling banyak digunakan ialah metode
wisata alam dan pembelajaran inkuiri. Adapun pendekatan yang paling umum ialah
aktivitas fisik dan belajar sambil menanamkan kesadaran dan sikap positif
terhadap alam (Jeronen, E. at al:2008).
Sekolah alam pertama kali didirikan di Siuntio
pada 1986. Setelah itu, sekolah sejenis terus berkembang dan bertambah di
seluruh Finlandia. Aksi sekolah alam dapat menjadi bagian dari pendidikan
formal pada semua tingkatan pendidikan, mulai dari TK sampai SMA, atau bisa
juga berupa kegiatan sepulang sekolah. Tindakan tersebut menggambarkan bahwa
sekolah alam tidak selalu terikat dengan tempat. Selain itu, penyelenggaraan
pendidikan lingkungan dapat diatur oleh masyarakat, pemerintah kota, atau
sektor swasta yang beroperasi di wilayah sekolah alam atau sekolah lingkungan.
Guru sekolah alam diberi tanggung jawab untuk
mengajar tentang lingkungan dan perubahan iklim. Di samping itu, mereka pun
bertindak sebagai guru kelas atau mata pelajaran di sekolah induk. Sekolah alam
tidak memiliki siswa sendiri. Mereka mendapatkan dana operasional pendidikan
dari pemerintah lokal/kota, seperti semua sekolah dasar dan menengah di
Finlandia.
Pendidikan lingkungan di Indonesia
Dampak kerusakan lingkungan dan perubahan
iklim di negara kita sudah sangat terasa, terutama dalam aspek ekonomi, sosial
budaya, dan kesehatan. Suhu ekstrem yang menyebabkan kekeringan, kebakaran
hutan, banjir, dan tanah longsor telah menjadi pemandangan umum dan bahkan
sudah sangat akrab dengan kehidupan masyarakat. Positifnya, perubahan iklim itu
secara evolutif juga telah menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat peduli
lingkungan dan sejumlah pakar pendidikan akan pentingnya pendidikan lingkungan
dan perubahan iklim diperkenalkan kepada pelajar (siswa) sejak usia dini.
Saat ini, sejumlah sekolah yang terdapat di
beberapa kepulauan, antara lain Sumatra, Jawa, Bali, dan Sulawesi sudah mulai
memperkenalkan konsep sekolah hijau yang dibangun dan dikembangkan--sebagian
itu atas inisiatif yayasan/sekolah sendiri--seperti Sekolah Sukma Bangsa (SSB)
di Kabupaten Pidie, Kabupaten Bireuen, dan Kota Lhokseumawe Aceh, serta
Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, atau melalui kemitraan dengan Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang disebut Sekolah Adiwiyata.
Sekolah Adiwiyata itu merupakan sekolah-sekolah
swasta dan negeri yang memperoleh pendampingan dari KLHK dalam memperkaya
pengetahuan, keterampilan, dan membangun kesadaran akan pentingnya menjaga
lingkungan (hijau) dan pelestarian lingkungan. Namun, kampanye hijau yang
digaungkan sejauh ini belum menjadi bagian kurikulum pembelajaran di sekolah
yang bermitra sehingga masih sulit untuk menjaga keberlangsungan program,
apalagi jika targetnya untuk dapat mengubah sikap dan perilaku siswa dan guru
terhadap pentingnya merawat dan menjaga kelestarian lingkungan.
Tujuan pendidikan lingkungan
Deklarasi Tbilisi (UNESCO-UNEP, 1978),
sebagaimana dikemukakan (Eila Jeronen, dkk, 2008) menyarankan bahwa tujuan
pendidikan lingkungan ialah untuk 'membantu individu dan masyarakat memperoleh
pengetahuan, nilai-nilai, sikap, dan keterampilan praktis untuk berpartisipasi
secara bertanggung jawab dan efektif dalam mengantisipasi dan pemecahan masalah
lingkungan, serta dalam pengelolaan kualitas lingkungan
'.Palmer dan Neal (1994) mendefinisikan
pendidikan lingkungan sebagai, pertama, pendidikan yang membangun kesadaran,
pemahaman, dan keterampilan yang diperlukan untuk memperoleh pemahaman. Kedua,
pendidikan di (atau dari) lingkungan, dengan pembelajaran terjadi di luar
kelas, seperti di alam. Ketiga, pendidikan lingkungan hidup yang bertujuan
untuk pelestarian alam dan pembangunan berkelanjutan.
Salah satu strategi yang perlu ditempuh untuk
mewujudkan tujuan di atas ialah dengan mengintegrasikan isu-isu yang berkaitan
dengan lingkungan dan perubahan iklim ke dalam kurikulum sekolah. Untuk itu,
menurut Satia Zen (2022), guru perlu memiliki kesadaran dan kemampuan dalam
merancang kurikulum (lokal) agar mereka mampu merespons dampak kerusakan
lingkungan, perubahan iklim, dan pemanasan global sesuai dengan kebutuhan dan
kondisi sekolah masing-masing.
Melalui Kurikulum Merdeka, guru seharusnya
sudah akan semakin otonom dalam mengelola pembelajaran dan penilaian. Apalagi
dengan Kurikulum Merdeka ini pembelajaran berbasis proyek dan portofolio
sepertinya sudah menjadi kebutuhan dan keniscayaan, khususnya dalam
mengembangkan keterampilan berpikir abad ke-21. Pembelajaran berbasis fenomena
yang dikembangkan di Finlandia atau model pembelajaran yang dikembangkan Grant
Wiggins dan McTighe, pembelajaran transformasi (pembelajaran bermakna), dapat
membantu guru dalam upaya mengintegrasikan topik/tema pembelajaran yang
terdapat dalam kurikulum dengan isu-isu yang terkait lingkungan, perubahan
iklim, dan pemanasan global.
Upaya-upaya di atas perlu dipikirkan,
didiskusikan, dan dilaksanakan sehingga isu lingkungan dan perubahan iklim
serta pemanasan global menjadi bagian dari kesadaran generasi muda masa kini
dan masa depan. Selanjutnya, kesadaran yang sudah terbangun akan mengubah
sikap, perilaku, dan gaya hidup yang nyata dan relevan dengan kondisi mereka
sehari-hari. Wallahu 'alam bishawab. Calak Edu Yayasan Sukma Bangsa Sekolah Finlandia
Sumber: https://m.mediaindonesia.com/opini/521794/sekolah-alam-dan-pendidikan-lingkungan
Komentar
Posting Komentar